SitammuNews - Titik Temu Informasi Akurat & Berimbang
KOLOM & ESAI MANDAR

“Membangun Generasi Emas dari Pegunungan Mamasa: Tantangan Pendidikan Inklusif Daerah 3T”

Martha Palinggi, M.Pd

Martha Palinggi, M.Pd

Kolumnis Tamu

Pendidikan Pedalaman & Pemberdayaan Komunitas Adat

Aktivis Pendidikan Inklusif Daerah 3T dan Penggiat Komunitas Literasi Banua Sibatang Pegunungan Mamasa.

Selasa, 13 Oktober 20264 menit baca
Keterbatasan akses sinyal digital dan sarana fisik sekolah pelosok Mamasa bukan alasan memadamkan hak belajar anak-anak pelosok Kondosapata.

Ketika kabut tebal masih menyelimuti lembah Balla dan Tabang di pagi buta, anak-anak dengan seragam merah putih lusuh telah melangkah menyusuri pematang terjal berlumpur. Jarak tempuh satu hingga dua jam jalan kaki melintasi jembatan gantung reyot adalah rutinitas sehari-hari mereka demi mencapai bangku sekolah dasar terdekat.

Di balik keelokan lanskap pegunungan Kabupaten Mamasa yang kerap dijuluki Swiss-nya Sulawesi Barat, realitas fasilitas pendidikan di pelosok pedalaman masih memanggil nurani kemanusiaan kita bersama.

Jurang Digital di Tengah Kurikulum Merdeka Belajar

Di kota-kota besar, kurikulum pendidikan mengalir mulus melalui tablet pintar dan jaringan internet pita lebar berkecepatan tinggi. Namun di puluhan desa pedalaman Mamasa, guru-guru honorer berdedikasi masih harus berjuang mencari satu titik sinyal di puncak bukit hanya untuk mengunggah lembar administrasi asesmen nasional.

Ketimpangan ini tidak boleh dianggap takdir yang wajar. Kebijakan alokasi 20 persen anggaran APBD pendidikan harus benar-benar menyentuh perbaikan ruang kelas bocor, penyediaan buku bacaan bergambar berkualitas, serta insentif layak bagi para guru pejuang yang mengabdi di pelosok terpencil.

Sentuhan Kearifan Adat Banua Sibatang

Pendidikan sejati di tanah Kondosapata Mamasa tidak boleh mencabut anak-anak dari akar budayanya. Filosofi gotong royong Mebaluk dan kearifan menjaga hutan adat yang diwariskan para tetua harus berpadu harmonis dengan sains dan penguasaan bahasa global.

Dari balik bilik-bilik bambu sekolah pegunungan Mamasa inilah calon dokter, ilmuwan lingkungan, dan pemimpin masa depan Indonesia akan lahir, asalkan negara hadir dengan keberpihakan anggaran yang jujur dan konsisten.

Catatan Redaksi SitammuNews: Seluruh substansi, analisis, dan argumentasi dalam kolom ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap resmi Dewan Redaksi SitammuNews. Kami menjunjung tinggi etika berpendapat yang bertanggung jawab sesuai Pedoman Pemberitaan Media Siber Dewan Pers.